0

tentang kita

aku ingin

mengeja kata dan merangkainya

merangkum jutaan waktu yang kita habiskan

membingkainya dengan gambar manis tingkah kita

aku ingin

mencari celah gunung tertinggi

mengisinya dengan kisah pahit yang nodai hasrat kita

lalu menimbunnya dengan sampah waktu

 

bukankah kita pernah berjanji

jalani waktu tanpa takut akan akhir

bukankah kita telah berjanji

mencoba khianati waktu dengan senyum dan tawa kita

 

lalu haruskah aku ingkari

haruskah aku membunuh sebuah harapan

menarik ribuan kata doa yang kita kirim pada tuhan

lalu mampukah aku ingkar janji pada tuhan

tuhanku, tuhanmu yang setia dengar keluh kita

meminta kembali air mata yang tertumpah demi kita

 

aku akan mencoba

mencari kembali kotak yang kau titipkan

berharap temukan benang merah yang pernah mengikat nadi kita

mencoba mengikatkannya kembali

tidak pada nadi namun pada hatimu, hatiku

 

aku akan mencoba mencari potongan hatimu

yang telah lebur dalam jiwaku

dan memberikannya padamu

biar kau kembalikan setengah milikku

biar aku bisa mencintaimu sepenuh hati

Advertisements
0

untukmu yang pernah cintaiku

jika hidupku adalah dongeng

aku kan jadi putrimu

menjadi sebuah kisah indah

kata dinyanyikan dalam puisi

dan syair indah adalah teman setiaku

namun hidup tak semudah itu

ada dia yang miliki hatiku

yang tak nyanyikan rayuan selalu

tapi setia temani sakitku hidupku

bukan dongeng untukmu

karena aku terlahir sebagai pencipta

bukan penikmat karyamu

dan aku tercipta untuknya

bukan terbuai dalam hayalmu saja

0

Ups!

Yah..
Hari terakhir ngeblog dengan embel-embel umur 19 tahun..

Selanjutnya, selama sepuluh tahun ke depan aku akan menyandang angka dua sebagai angka pembuka umurku. Sederhana atau bahkan kurang kerjaan. Menjadikan masalah umur sebagai postingan perdana. Tapi, bagiku, menyandang angka dua itu adalah sebuah pintu. Sebuah awal sekaligus akhir. Saat di mana aku harus bisa mengakhiri masa – masa ketidakdewasaanku selama belasan tahun sekaligus mulai berfikir, apa yang sudah aku hasilkan selama ini.

Menginjak usia dewasa aku harus mulai sadar, aku bukan anak kecil yang hanya bisa menunggu keajaiban datang. Tapi bukan berarti menjadi dewasa aku harus bertambah tua (dalam fisik tentu tak bisa dipungkiri, tapi tidak dalam jiwaku).

Terima kasih, Tuhan. Semoga aku bisa menjadi dewasa dalam sikap dan tetap mampu menjaga jiwa kanak – kanak dalam diriku.