0

laut, senja, hujan

Aku pernah menjadi sebatang pensil

yang siap menari kala bulan minta sajak rindu

goreskan noda kelabu pada setiap helai yang kujumpa

 

Aku pernah menjadi sebercak mimpi

yang menebar spektrum warna pada malam

ciptakan kolase masa depan yang tajam tapi terbaur

 

Aku pernah menjadi mawar hutan

yang durinya selalu menusuk dalam dagingmu

mengoyak nadi hingga meracun hati

 

Lalu haruskah aku minta maaf

ketika aku mengharap senja tanpa menunggu bulan

ketika mimpi tak jelas tapi aku tetap bahagia

ketika tak ada nadi dan hati yang terluka

 

Aku pernah merindu pada ombak yang memanggil samar

ketika terpesona bentang alam dari puncak Lawu

 

Maka aku pulang

pada laut yang membelaiku indah

pada senja yang tak selalu memerah jingga

pada hujan yang menidurkanku damai

Advertisements