0

Kartini untuk Negeri

Beberapa bulan kami sempat berhenti bergerak.
Berdiam pada ego masing – masing tanpa berusaha menyadari, seakan lupa kami masih ingin karya kami selesai dengan cantik. Berbagai alasan terlontar dengan mudah dari kami. Entah sebuah produksi lain, entah jadwal kuliah, entah kegiatan apapun yang mendadak menjadi lebih penting dari konsekuensi awal.

Kami bukannya ingin berhenti.
Kami hanya belum punya kesadaran untuk memiliki sebuah karya, ‘Kartini untuk Negeri’. Tapi pelan – pelan kami bergerak lagi. Berasal dari individu – individu yang mulai mempertanyakan kelangsungan produksi ini dan hari Kartini semakin berlari mendekat.

Kami tidak lagi berdiam.
Menekan sebentar ego dan perasaan masing – masing, kami kembali bergerak. Tidak berjalan seperti dulu, tapi kami berlari. Mengejar ketertinggalan proses yang sekian lama. Bergegas mencari semangat juang yang sempat tersingkir.

“ Kita sadar.
Kita tak bisa bergerak sendiri.
Kita mengingat.
Meski logika kita memiliki 13 sudut, Kita Satu Jiwa!”

Advertisements
0

Malam

sepotong malam

tertawa menggoda

memanggil menilik bintang yang pelan muncul

kembali setelah badai mendung mencuri hangat

 

bukankah aku tersenyum disini?

dengan senja yang tak selalu memerah

namun dinginnya tak pernah menggigit buas

 

bukankah malamku tak pernah terlalu pekat?

dengan hangat yang selalu menghibur

walau purnama tak lagi datang

 

aku menolak kedinginan di kotaku sendiri

dengan tatapan tajam para bintang

dengan senyum sinis dewi malam

 

aku menolak tersenyum terpaksa di kotaku sendiri

tidak jika masih kudapati senjaku

tidak jika pagiku masih tersenyum

tidak jika hujanku setia membelai indah