0

aku mulai rindu

hujan dan dingin senja

kangen pun jadi memeluk erat

berada di Kalimati-kah kau?

atau mungkin di Arcopodo?

seharusnya masih purnama malam ini

atau malahan hujan turun di sana?

 

kalau aku tak salah hitung hari

malam nanti kau akan kunjungi nisan Soe Hok Gie

jangan menyerah pada pasir dan tanjakan

lalu esok kau akan sambut terbit fajar dari Mahameru

ingat aku, ingat tentang semua cintaku

sampaikan salamku pada sempurna alam

 

jika kau turun nanti

ingatkan aku pada indah gunung

bawa pulang lukisan Ranu Kumbolo

bawa pulang terbit fajar Mahameru di hatimu

bingkai mimpiku dalam lensamu

lukislah warna-warna sejati dan berikan padaku

 

agar aku yakin kau pulang

agar aku yakin Semeru menuntunmu pulang

padaku, pada mereka yang sayangimu

 

“untukmu yang ada di Semeru, Oktober – November 2012”

Advertisements
2

anak pertama kami, tak luput dari salah :)

Tujuh bulan berlalu sejak proses produksi kami berakhir. Setiap bagian video dan audio telah tertata rapi dalam satu folder berjudul Kartini untuk Negeri. Namun sayang sekali, folder berisi ribuan file berharga itu tak pernah disentuh.Bahkan sedikit terlupakan dari pikiran kami. Tersaingi oleh liburan, tugas – tugas, hari raya Idul Fitri, KKN, hingga kembali lagi ke puluhan tugas yang jadi kambing hitam. Bukankah tekad kita untuk berkarya masih ada? Bukankah kita dulu mencuri sepenggal waktu hanya demi mengambil gambar sebuah adegan atau sekedar menunggu hujan reda dan batal take?

Keinginan kuat untuk melihat sebuah karya seperti menjadi kabur. Kami seakan tak pernah memiliki sebuah karya. Padahal, bumbu sudah siap dan bahan telah diracik, kompor sudah menyala dan kami siap memasak. Tapi kami diam, kami membiarkan bahan – bahan itu berdebu dalam satu kotak. Kami hanya saling memandang tanpa menyebut sekalipun tentang KuN, seakan anak kami adalah anak haram. Kami tak pernah mencuri waktu lagi untuk sekedar membimbing KuN menjadi dewasa melalui meja editing.

Lalu sesuatu menggerakkan kami. Sepenggal harapan untuk KuN kembali hidup. Aku ingin melihat KuN hidup di layar putih yang terbentang dan ditembak sinar proyektor. Aku ingin sekedar melihat anakku tumbuh. Aku ingin mencoba menyelesaikan karyaku yang tertunda. Aku ingin mencoba, meski mungkin gagal. Kami menyerukan itu di hati kami. Diam – diam, kami masih berharap.

30 November 2012, Kartini untuk Negeri kembali hidup. Lengkap dalam satu buah film, tak lagi terdiri dari ribuan file. Kami ada di sana. Menonton anak kami tumbuh. Menyaksikkan karya kami dilihat puluhan pasang mata. Kami terdiam, kami takut, kami bangga, kami terharu, kami tak bisa bicara.

13 Angles telah berhasil menciptakan sebuah karya. Bersama kami melangkah dalam 13 sudut pikiran yang tak mungkin bersatu. Kami terluka dan kami mencoba lagi, untuk Kartini untuk Negeri.
Kita satu jiwa!