Memori Masa Kecil

Proses mengingat bagiku seperti memasukkan kode-kode ke dalam otak, menyimpannya lalu memanggil kode-kode itu dan menyusunnya kembali saat dibutuhkan. Sering kali kita melupakan memori yang telah lama berlalu. Bagiku prosesnya sama seperti menumpuk kardus di gudang, awalnya kotak barang terlihat rapi dan mudah dicari tapi lama-lama gudang penuh, barang berdebu, dan susah menemukan barang lama. Sering kita kesulitan untuk mengingat detail suatu peristiwa yang telah lama terjadi. Tapi kadang kala otak tiba-tiba bekerja dengan cerdasnya, memproses kembali memori masa kecil dan menampilkan detail-detail yang menakjubkan. Munculnya memori yang telah lama tidak terjadi begitu saja tetapi karena ada hal yang menjadi pemicu.

Baru-baru ini, memori masa kecilku juga berseliweran. Penyebabnya sangat sederhana : melihat bendera merah putih yang terpasang di ujung gang. Visual itu memanggil kembali kode tentang event menyambut tujuh belasan yang aku alami saat masih kecil. Jelas sekali bahwa dulu di kampung sering sekali diadakan lomba-lomba yang beraneka macam dan hampir selalu melibatkan air. Bendera warna-warni, lampu-lampu, dan cat putih baru untuk marka jalan kampung yang dulu masih aspal kasar. Kami (-aku dan anak-anak kampung lainya) selalu bahagia, bangun sampai larut malam dan ikut menghias kampung.

Satu memori utuh terbentuk dalam ingatan. Memanggil rangkaian memori yang lainnya.

Event tujuh belasan bagiku erat kaitannya dengan Bapak. Sosok yang selalu ambisius, penuh semangat dan paling bahagia kalau memasuki bulan Agustus. Sibuk memikirkan lomba apa, bagaimana membuat acara yang meriah, sampai heboh berpartisipasi dalam setiap lomba. Tangan dinginnya selalu terampil membuat aneka bentuk lampion dan sepeda hias. Aku ingat, ikut arak-arakan sepeda hias dalam bentuk kapal laut. Umurku entah berapa saat itu, kalau tidak salah aku masih TK. Sampai suatu saat lomba lampion yang lekat dengan kegiatan khas RT-ku selama bertahun-tahun dihentikan karena Bapak selalu menjadi juara, entah pertama, kedua, atau ketiga.

Masa remajaku memang tidak terlalu dekat dengan Bapak. Tidak seperti cewek pada umumnya. Tapi aku ingat betul, masa kecilku sangat lekat dengan sosoknya. Bahkan aku pernah sakit hingga stres dan mogok sekolah saat kelas tiga SD karena ditinggal Bapak pergi. Entah kemana waktu itu, aku lupa. Masa kecilku dipenuhi mainan juga karena tangan dingin Bapak yang menyulap barang disekitar menjadi istana boneka, kuda goyang atau sekedar rak buku milikku sendiri.

Aku ingat, waktu itu kami rekreasi ke Jakarta dan pergi ke taman bermain. Kami melihat pertunjukan lumba-lumba. Aku naik perahu, didorong lumba-lumba, lagi-lagi bersama Bapak. Kami naik ke atas menara atau entah wahana apa, aku lupa lagi -.-, dan aku menjatuhkan topi kulit kesayangan Bapak dan menghilangkannya. Aku sering ikut Bapak bekerja dan merengek untuk jajan di kantin SD yang kini sudah digusur dan di tanahnya dibangun warung wedangan.

Ah, serangan memori masa kecil membuatku semakin rindu dengan Bapak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s