2

anak pertama kami, tak luput dari salah :)

Tujuh bulan berlalu sejak proses produksi kami berakhir. Setiap bagian video dan audio telah tertata rapi dalam satu folder berjudul Kartini untuk Negeri. Namun sayang sekali, folder berisi ribuan file berharga itu tak pernah disentuh.Bahkan sedikit terlupakan dari pikiran kami. Tersaingi oleh liburan, tugas – tugas, hari raya Idul Fitri, KKN, hingga kembali lagi ke puluhan tugas yang jadi kambing hitam. Bukankah tekad kita untuk berkarya masih ada? Bukankah kita dulu mencuri sepenggal waktu hanya demi mengambil gambar sebuah adegan atau sekedar menunggu hujan reda dan batal take?

Keinginan kuat untuk melihat sebuah karya seperti menjadi kabur. Kami seakan tak pernah memiliki sebuah karya. Padahal, bumbu sudah siap dan bahan telah diracik, kompor sudah menyala dan kami siap memasak. Tapi kami diam, kami membiarkan bahan – bahan itu berdebu dalam satu kotak. Kami hanya saling memandang tanpa menyebut sekalipun tentang KuN, seakan anak kami adalah anak haram. Kami tak pernah mencuri waktu lagi untuk sekedar membimbing KuN menjadi dewasa melalui meja editing.

Lalu sesuatu menggerakkan kami. Sepenggal harapan untuk KuN kembali hidup. Aku ingin melihat KuN hidup di layar putih yang terbentang dan ditembak sinar proyektor. Aku ingin sekedar melihat anakku tumbuh. Aku ingin mencoba menyelesaikan karyaku yang tertunda. Aku ingin mencoba, meski mungkin gagal. Kami menyerukan itu di hati kami. Diam – diam, kami masih berharap.

30 November 2012, Kartini untuk Negeri kembali hidup. Lengkap dalam satu buah film, tak lagi terdiri dari ribuan file. Kami ada di sana. Menonton anak kami tumbuh. Menyaksikkan karya kami dilihat puluhan pasang mata. Kami terdiam, kami takut, kami bangga, kami terharu, kami tak bisa bicara.

13 Angles telah berhasil menciptakan sebuah karya. Bersama kami melangkah dalam 13 sudut pikiran yang tak mungkin bersatu. Kami terluka dan kami mencoba lagi, untuk Kartini untuk Negeri.
Kita satu jiwa!

Advertisements
0

Kartini untuk Negeri

Beberapa bulan kami sempat berhenti bergerak.
Berdiam pada ego masing – masing tanpa berusaha menyadari, seakan lupa kami masih ingin karya kami selesai dengan cantik. Berbagai alasan terlontar dengan mudah dari kami. Entah sebuah produksi lain, entah jadwal kuliah, entah kegiatan apapun yang mendadak menjadi lebih penting dari konsekuensi awal.

Kami bukannya ingin berhenti.
Kami hanya belum punya kesadaran untuk memiliki sebuah karya, ‘Kartini untuk Negeri’. Tapi pelan – pelan kami bergerak lagi. Berasal dari individu – individu yang mulai mempertanyakan kelangsungan produksi ini dan hari Kartini semakin berlari mendekat.

Kami tidak lagi berdiam.
Menekan sebentar ego dan perasaan masing – masing, kami kembali bergerak. Tidak berjalan seperti dulu, tapi kami berlari. Mengejar ketertinggalan proses yang sekian lama. Bergegas mencari semangat juang yang sempat tersingkir.

“ Kita sadar.
Kita tak bisa bergerak sendiri.
Kita mengingat.
Meski logika kita memiliki 13 sudut, Kita Satu Jiwa!”

0

Kami Mencari, Kami Menemukan

Berbagai rintangan mulai menghadang kami, para perempuan yang biasa disebut Jeung – Jeung. Bukan masalah mudah, lagi – lagi kami bertiga belas terdiri dari manusia yang lebih dipengaruhi hati daripada logika. Maklum, perempuan kan memang begitu. Hahaha.

Beberapa hari yang lalu, seorang pemuda berkata kami tak akan mampu mendistribusikan karya tanpa rengekan dan keluh kesah. Tapi proses terus berlanjut, kawan. Bermodal laptop dan modem bajakan milik Jejaka Nusantara, seorang Jeung berjuang menemukan sebuah wadah yang mau dan mampu menampung apresiasi karya kami yang belum diproduksi. Meski beberapa kali gagal karena beberapa foundation telah tutup buku tahunan, dia tetap fokus berselancar di dunia maya.

Hasilnya adalah dia menemukan sesuatu, kawan. Sebuah foundation mau menerima proposal karya kami (yang sampai saat ini belum dibuat  :p). Syaratnya adalah proposal harus disusun menggunakan bahasa inggris. Oke, kawan. Saatnya kita berjuang mentranslete berlembar – lembar proposal demi kemaslahatan dan kemakmuran kita nantinya.

Semoga, proposal yang kami ajukan nantinya, rancangan karya yang kami serahkan nantinya, bisa mendapat apresiasi. Semoga jalan kami untuk berkarya semakin terbuka. Demi kami, perempuan Kaki Kanan yang sedang belajar. Demi anak – anak perempuan di luar sana yang termarjinalkan dari pendidikan. Dan juga, demi semua perempuan yang nanti menyaksikan karya kami.

Ingat kawan, Kita Satu Jiwa!

7

Kami Melangkah

Riset.. riset.. riset..
“Mampu nggak ya nglakuin semuanya murni tanpa bantuan cowok – cowok kaki kanan?” itu yang selalu terlintas di pikiranku setiap teringat produksi “Arisan Jeung”. Ternyata mereka, teman – teman yang lain, jauh lebih optimis dan percaya diri dibanding aku.
Teman – teman selalu ngasih semangat dan mencercaku kalau aku mulai pesimis. Dukungan moral dari kaki kanan cowok juga sangat besar. Mereka bersedia menjadi tutor meskipun langsung diusir jika ribut saat kami sedang Arisan atau saat mereka memaksa ikut campur dalam produksi kami.

Riset.. riset.. riset..
Masalah pendanaan produksi terselesaikan dengan cara unik. Masing – masing anggota arisan wajib setor dua ribu rupiah setiap hari, lima hari kerja, sampai bulan Maret. Itulah asal mula kelompok produksi ini disebut “Arisan Jeung” dan rapat produksinya disebut dengan kata Arisan.

Riset.. riset.. riset..
Hal utama yang perlu diwaspadai dari produksi ini adalah kru. Bayangin aja, tiga belas cewek disatuin dalam satu kelompok kerja. Kebayang kan gimana ramenya. Apalagi kalau udah urusan sama mood masing – masing anggota. Bisa runyam acara Arisannya. Masing – masing kudu punya kontrol diri yang kuat biar nggak nyinggung perasaan temen yang lain. Maklum, cewek mah gampang ngambek. Hahahaha..

Riset.. riset.. riset..
Proses pra produksi udah jalan tiga minggu. Oktober udah di pertengahan. Banyak hal butuh dibenerin dan direvisi ulang. Saatnya cewek – cewek unjuk kemampuan. Kami nggak ngeksis, kami hanya ingin berpartisipasi dalam dunia perfilman gedung F. Doakan kami mampu. Doakan kami tetap berjuang biar langkah kami terhambat high heels yang kadang ikut ngampus.
:p
Doakan.

Ayes, Angel, Anggit, Buntal, Bul-bul, Dewi, Diah, Lusida, Naafi, Niam, Prima, Raras, Risa..
Kita satu jiwa!

0

Beda Bahasa Satu Produksi

Solo, Oktober 2011.

Festival Kesenian Indonesia yang (kabarnya) terakhir digelar.

Awalnya nggak ada niat buat ikut – ikut apalagi jadi panitia. Udah kebayang capek dan repotnya. Tapi atas permintaan seorang teman yang minta tolong, aku jadi terlibat dalam salah satu produksi film pendeknya FKI.
Niatan sekedar membantu menjadi kesenangan tersendiri. Bayangkan saja, terlibat dalam sebuah produksi film pendek dengan kru yang asing dan waktu yang sangat – sangat singkat. Perbedaan bahasa jadi sedikit kendala. Awalnya, delegasi dari beberapa daerah lebih banyak diam karena nggak ngerti bahasa Jawa. Tapi karena suasana produksi yang ringan dan santai – santai serius, kami menjadi akrab.
Sedikit berbagi bahasa dan pengalaman dari masing – masing kampus membuat aku jadi kepingin mengulangi produksi yang belum selesai ini.
Semoga ada lain kali untuk bersama membuat satu karya besar.