0

Memori Masa Kecil

Proses mengingat bagiku seperti memasukkan kode-kode ke dalam otak, menyimpannya lalu memanggil kode-kode itu dan menyusunnya kembali saat dibutuhkan. Sering kali kita melupakan memori yang telah lama berlalu. Bagiku prosesnya sama seperti menumpuk kardus di gudang, awalnya kotak barang terlihat rapi dan mudah dicari tapi lama-lama gudang penuh, barang berdebu, dan susah menemukan barang lama. Sering kita kesulitan untuk mengingat detail suatu peristiwa yang telah lama terjadi. Tapi kadang kala otak tiba-tiba bekerja dengan cerdasnya, memproses kembali memori masa kecil dan menampilkan detail-detail yang menakjubkan. Munculnya memori yang telah lama tidak terjadi begitu saja tetapi karena ada hal yang menjadi pemicu.

Baru-baru ini, memori masa kecilku juga berseliweran. Penyebabnya sangat sederhana : melihat bendera merah putih yang terpasang di ujung gang. Visual itu memanggil kembali kode tentang event menyambut tujuh belasan yang aku alami saat masih kecil. Jelas sekali bahwa dulu di kampung sering sekali diadakan lomba-lomba yang beraneka macam dan hampir selalu melibatkan air. Bendera warna-warni, lampu-lampu, dan cat putih baru untuk marka jalan kampung yang dulu masih aspal kasar. Kami (-aku dan anak-anak kampung lainya) selalu bahagia, bangun sampai larut malam dan ikut menghias kampung.

Satu memori utuh terbentuk dalam ingatan. Memanggil rangkaian memori yang lainnya.

Event tujuh belasan bagiku erat kaitannya dengan Bapak. Sosok yang selalu ambisius, penuh semangat dan paling bahagia kalau memasuki bulan Agustus. Sibuk memikirkan lomba apa, bagaimana membuat acara yang meriah, sampai heboh berpartisipasi dalam setiap lomba. Tangan dinginnya selalu terampil membuat aneka bentuk lampion dan sepeda hias. Aku ingat, ikut arak-arakan sepeda hias dalam bentuk kapal laut. Umurku entah berapa saat itu, kalau tidak salah aku masih TK. Sampai suatu saat lomba lampion yang lekat dengan kegiatan khas RT-ku selama bertahun-tahun dihentikan karena Bapak selalu menjadi juara, entah pertama, kedua, atau ketiga.

Masa remajaku memang tidak terlalu dekat dengan Bapak. Tidak seperti cewek pada umumnya. Tapi aku ingat betul, masa kecilku sangat lekat dengan sosoknya. Bahkan aku pernah sakit hingga stres dan mogok sekolah saat kelas tiga SD karena ditinggal Bapak pergi. Entah kemana waktu itu, aku lupa. Masa kecilku dipenuhi mainan juga karena tangan dingin Bapak yang menyulap barang disekitar menjadi istana boneka, kuda goyang atau sekedar rak buku milikku sendiri.

Aku ingat, waktu itu kami rekreasi ke Jakarta dan pergi ke taman bermain. Kami melihat pertunjukan lumba-lumba. Aku naik perahu, didorong lumba-lumba, lagi-lagi bersama Bapak. Kami naik ke atas menara atau entah wahana apa, aku lupa lagi -.-, dan aku menjatuhkan topi kulit kesayangan Bapak dan menghilangkannya. Aku sering ikut Bapak bekerja dan merengek untuk jajan di kantin SD yang kini sudah digusur dan di tanahnya dibangun warung wedangan.

Ah, serangan memori masa kecil membuatku semakin rindu dengan Bapak.

Advertisements
2

Sepotong Liburan Gratis. Batu, Malang.

Yap, momen lebaran yang penuh dengan liburan sudah lewaaat. Jaauuuh. Gara-gara gak punya gawe alias pengangguran, hasrat untuk plesiran masih sangat besar. Untung aja ada agenda family gathering dari kantornya Ibuk. Tipe liburan singkat dengan jadwal padat yang gak bisa diganggu gugat. Tapi tetap aja dong, semangatnya penuh secara liburan gratis.
Jadwal piknik berangkat Jumat malam dan Minggu malam sampai Solo. Hmm, cukup bawa barang seadanya aja deh. Setelah main cabut kaos dari tumpukan pakaian, terkumpul tiga potong kaos dan satu celana pendek. Sebagai pelengkap ada alat mandi, alat make up, power bank, dan rampasan kamera punya mas pacar.

image

Simple tapi komplit

Jumat malam sekitar jam setengah 10 berangkatlah menuju Batu, Malang lewat jalur utara. Kata TLnya sih mau nyobain toll baru. Dasar moloran, naik bis belum sampai Sragen sudah tidur, akhirnya nggak ngelihat toll baru yang dimaksud. Jam 5 tet sampai hotel, transit doang. Sholat subuh, molor lagi, mandi, sarapan, dan meluncur ke toko oleh-oleh. Lhah, bikin boros di awal nih. Tapi kan si Emak yang ngeluarin dompet. Hihihi.
Yak, wisata dimulai dengan yang ijo-ijo. Eco Green Park, Batu. Asri, adem, punya banyak banget jenis unggas, kebun, embek, sapi, dan es krim. Namanya aja eco green, isinya ramah lingkungan banget nih. Ada instalasi seni yang dibuat dari barang-barang bekas. Sebagai contoh kalau barang bekas dengan penanganan yang tepat bisa jadi barang yang punya nilai seni.

image

Limbah kayu jadi patung

Puas jalan-jalan, jajan-jajan, foto-foto, lihat-lihat, balik lah ke bis, nunggu rombongan buat makan siang dulu. Kenyang, cus lanjut ke Museum Angkut. Obyek wisatanya deket lho jaraknya antara satu sama lain. Oh, iya obyek wisata ini termasuk satu rangkaian wisata yang bisa dilakukan dengan cuma beli 1 tiket. Namanya tiket sakti. Kalau kalian beli tiket sakti, kalian bisa nikmati 7 obyek wisata andalan Batu dengan harga yang murah banget.

image

300ribu kurang udah komplit

Yak, balik ke museum angkut. Museum angkut ini favorit diantara tiga obyek yang dikunjungi. Isinya ada miniatur pasar apung yang jual souvenir dan jajanan nusantara. Taglinenya sih jajanan nusantara, tapi aku lihat banyak makanan Solo yang dijual. Nggak jajan deh. Bangunan utama isinya bikin merinding disko. Motor dan mobil tua! Ada informasinya juga layaknya museum lainnya. Tapi aku pilih lihat-lihat mobil sama motornya aja.

image

Nggak ngerti seri motornya

image

Heinkel Kabinkruiser 1957 - 196cc

Weits, tunggu dulu. Isinya museum angkut gak cuma moda transportasi lho. Di atap bangunan utama ada simulasi apollo dan pesawat terbang. Selain itu ada juga miniatur kota dari berbagai negara. Berhubung aku ke sini pas hari Sabtu, situasinya cukup ramai jadi harus antri kalau mau foto di spot yang bagus.

image

Ceritanya ini Inggris

image

Gangster town

image

Diinjak hulk mesin

Capek muter-muter tapi dapat stok DP lumayan banyak. Hahahaha. Lain kali harus balik ke Batu, datang ke obyek yang sama tapi nggak pake rombongan. Biar puas ekplore obyeknya. Balik hotel udah maghrib aja. Niat hati mau lanjut ke BNS gara- gara capek banget akhirnya malah tidur sampe pagi. Oh, iya. Ada pengalaman sekali seumur hidup pas di hotel, mati lampu dan hotelnya gak punya genset. Duh mak.
Minggu pagi buru-buru beberes karena abis sarapan langsung check out. Pulang ke Solo mampir dulu ke tujuan trakhir, Predator Fun Park. Obyek ini tergolong baru karena baru beberapa minggu dibuka dan masih dalam tahap pembangunan.

image

Gerbang utama Predator Fun Park

Predator Fun Park isinya didominasi oleh buaya. Mulai dari patung, replika, fosil, diorama, sampai buaya asli. Ukuran buaya hidupnya juga macem-ma em, dari telor sampai ada yang 3 meter. Eit, jangan skeptis dulu. Di balik nama fun park tentu ada hal yang menyenangkan. Obyek ini punya kereta mini untuk mengitari sebagian lokasi, area bermain trampolin, water park, cafetaria, dan family fun game.

image

Waterparknya lumayan gede

image

semacam mini versinya benteng takeshi

Yah, selesai lagi deh jalan-jalannya. Semoga cepet ada kesempatan buat dolan lagi. Yuk, bobog dulu.

0

aku mulai rindu

hujan dan dingin senja

kangen pun jadi memeluk erat

berada di Kalimati-kah kau?

atau mungkin di Arcopodo?

seharusnya masih purnama malam ini

atau malahan hujan turun di sana?

 

kalau aku tak salah hitung hari

malam nanti kau akan kunjungi nisan Soe Hok Gie

jangan menyerah pada pasir dan tanjakan

lalu esok kau akan sambut terbit fajar dari Mahameru

ingat aku, ingat tentang semua cintaku

sampaikan salamku pada sempurna alam

 

jika kau turun nanti

ingatkan aku pada indah gunung

bawa pulang lukisan Ranu Kumbolo

bawa pulang terbit fajar Mahameru di hatimu

bingkai mimpiku dalam lensamu

lukislah warna-warna sejati dan berikan padaku

 

agar aku yakin kau pulang

agar aku yakin Semeru menuntunmu pulang

padaku, pada mereka yang sayangimu

 

“untukmu yang ada di Semeru, Oktober – November 2012”

0

Malam

sepotong malam

tertawa menggoda

memanggil menilik bintang yang pelan muncul

kembali setelah badai mendung mencuri hangat

 

bukankah aku tersenyum disini?

dengan senja yang tak selalu memerah

namun dinginnya tak pernah menggigit buas

 

bukankah malamku tak pernah terlalu pekat?

dengan hangat yang selalu menghibur

walau purnama tak lagi datang

 

aku menolak kedinginan di kotaku sendiri

dengan tatapan tajam para bintang

dengan senyum sinis dewi malam

 

aku menolak tersenyum terpaksa di kotaku sendiri

tidak jika masih kudapati senjaku

tidak jika pagiku masih tersenyum

tidak jika hujanku setia membelai indah

0

laut, senja, hujan

Aku pernah menjadi sebatang pensil

yang siap menari kala bulan minta sajak rindu

goreskan noda kelabu pada setiap helai yang kujumpa

 

Aku pernah menjadi sebercak mimpi

yang menebar spektrum warna pada malam

ciptakan kolase masa depan yang tajam tapi terbaur

 

Aku pernah menjadi mawar hutan

yang durinya selalu menusuk dalam dagingmu

mengoyak nadi hingga meracun hati

 

Lalu haruskah aku minta maaf

ketika aku mengharap senja tanpa menunggu bulan

ketika mimpi tak jelas tapi aku tetap bahagia

ketika tak ada nadi dan hati yang terluka

 

Aku pernah merindu pada ombak yang memanggil samar

ketika terpesona bentang alam dari puncak Lawu

 

Maka aku pulang

pada laut yang membelaiku indah

pada senja yang tak selalu memerah jingga

pada hujan yang menidurkanku damai

0

tentang kita

aku ingin

mengeja kata dan merangkainya

merangkum jutaan waktu yang kita habiskan

membingkainya dengan gambar manis tingkah kita

aku ingin

mencari celah gunung tertinggi

mengisinya dengan kisah pahit yang nodai hasrat kita

lalu menimbunnya dengan sampah waktu

 

bukankah kita pernah berjanji

jalani waktu tanpa takut akan akhir

bukankah kita telah berjanji

mencoba khianati waktu dengan senyum dan tawa kita

 

lalu haruskah aku ingkari

haruskah aku membunuh sebuah harapan

menarik ribuan kata doa yang kita kirim pada tuhan

lalu mampukah aku ingkar janji pada tuhan

tuhanku, tuhanmu yang setia dengar keluh kita

meminta kembali air mata yang tertumpah demi kita

 

aku akan mencoba

mencari kembali kotak yang kau titipkan

berharap temukan benang merah yang pernah mengikat nadi kita

mencoba mengikatkannya kembali

tidak pada nadi namun pada hatimu, hatiku

 

aku akan mencoba mencari potongan hatimu

yang telah lebur dalam jiwaku

dan memberikannya padamu

biar kau kembalikan setengah milikku

biar aku bisa mencintaimu sepenuh hati

0

untukmu yang pernah cintaiku

jika hidupku adalah dongeng

aku kan jadi putrimu

menjadi sebuah kisah indah

kata dinyanyikan dalam puisi

dan syair indah adalah teman setiaku

namun hidup tak semudah itu

ada dia yang miliki hatiku

yang tak nyanyikan rayuan selalu

tapi setia temani sakitku hidupku

bukan dongeng untukmu

karena aku terlahir sebagai pencipta

bukan penikmat karyamu

dan aku tercipta untuknya

bukan terbuai dalam hayalmu saja