0

Review : NIVEA body lotion UV Extra Whitening

Rasa-rasanya ada yang kurang kalau habis mandi nggak pakai body lotion. Mungkin karena sudah kebiasaan dari SD selalu pakai body lotion dan karena tipe kulitku yang kering. Super duper kering. Alhasil kalau lupa oles lotion, kulit langsung jadi kerontang bak sawah di musim kemarau. Jadi body lotion atau body butter masuk daftar wajib belanja buat ritual harian.
Berhubung body butter favorit sudah menipis dan bosen sama aromanya, aku berangkat cari lotion baru ke supermarket. Lihat-lihat, cari-cari. Mata terpaku ke Nivea body lotion UV Extra Whitening. Harganya lumayan sih buat ukuran 200ml (aku ambil yang kemasan tanggung) tapi taglinenya bikin hati kepincut.

image

Tampilan depan

Kemasannya botol segenggaman tangan dengan tutup biru khas nivea. Label depannya bilang “ekstra mencerahkan, melembabkan dan melindungi dari kulit kusam” dengan SPF 15. Nivea body lotion UV Extra Whitening ini mengandung advanced care with hydra IQ untuk semua jenus kulit. Ada kata-kata hydra dan yang kepikiran adalah air. Lha kalau menggunakan teknologi yang berkaitan dengan air berarti cepat meresap di kulit dong? Itulah pertanyaan besar yang muncul.

image

Tampilan belakang

Penjelasan di label belakangnya makin bikin aku penasaran untuk nyobain. Katanya body lotion ini mengandung ekstrak Camu-camu yang mengandung vitamin C 50x lebih banyak dari lemon untuk merawat kulit dari 10 masalah kulit kusam dan rusak. Mengandung SPF 15 yang telah dikembangkan khusus untuk kulit Asia dan efektif melindungi kulit dari sinar matahari. Menggunakan teknologi hydra IQ yang membantu membentuk aquaporin (saluran hidrasi alami kulit) yang baru. Hasil setelah pemakaian teratur diklaim kulit lebih cerah dan terasa lembut.

image

Tekstur nivea hand body UV extra whitening

Teksturnya tidak terlalu kental bahkan menurutku cenderung encer dan beresiko mbleber kemana-mana kalau nggak hati-hati. Lotionnya seperti mengandung banyak air. Wajar jika komposisi pertama yang disebut adalah aqua. Pas diaplikasikan ke kulit juga gampang meresap dan sama sekali nggak lengket. Cuma tunggu beberapa detik dan rasanya langsung ringan banget kaya nggak pakai lotion. Tapi di kulit jatuhnya lembut dan lembab banget. Aku udah sekitar 3 mingguan pakai Nivea body lotion UV Extra Whitening ini dan hasilnya kulitku belangnya jadi jauh lebih baik. Kusam-kusamnya kulit jadi memudar dan yang penting kulitku jadi kelihatan nggak kering lagi.

image

Pas diaplikasikan ke tangan

Hasilnya memuaskan tapi gara-gara main ke pantai beberapa hari lalu tangan sukses belang lagi. Akhirnya tadi sore memutuskan beli sabun produksi Filipina yang katanya ajaib bikin kulit rata warnanya. Review dan penampakan sabunnya ditunggu sebulan lagi ya. Biar efeknya kelihatan dulu.

(+) Cepat meresap
(+) Wanginya enak
(+) Nggak lengket
(+) Banyak yang jual
(+) Bikin kulit jadi bersih

(-) Belum nemuin 🙂

Beli lagi? Ya!

Advertisements
4

Membuat Sabun Cair dari Sabun Batangan

Ide untuk membuat sabun cair dari sabun batangan alias bar soap muncul gara-gara sabun mandi habis dan kantong kosong. Alhasil ngubek-ngubek lemari Maknyak nyari sabun mandi. Ketemu 3 batang sabun Mustika Ratu varian Mawar. Sabun yang nggak bakal dipakai mandi sama Maknyak gara-gara nggak suka pake sabun batang.
Aku juga nggak suka pake sabun batang jadi aku punya pikiran merubahnya jadi sabun cair. Aku kira prosesnya sulit, butuh banyak bahan tambahan. Ternyata setelah googling, caranya gampang banget. Alat yang dibutuhkan cuma parutan keju, panci dan kompor. Bahannya tentu saja sabun batangan dan air. Caranya tinggal di parut sabunnya, dimasukkan ke air yang udah mendidih, aduk sebentar sampai sabunnya larut dan selesai.
Sejauh ini belum ada yang aneh sih, cuma tinggal nunggu adonannya dingin baru ketahuan bener atau nggak langkahnya.

Setelah 6 jam, sabunnya udah dingin. Tapi terlalu encer. Hiks. Aku langsung berfikir kalau eksperimennya gagal. Akhirnya, nyalakan kompor lagi, dididihkan lagi. Pas adonan tinggal 3/4 aku pikir udah cukup. Dinginkan lagi. Tunggu lagi. Setelah dingin, aduk aduk dan, taraaaa, sabunnya jadi.

Continue reading

2

Sepotong Liburan Gratis. Batu, Malang.

Yap, momen lebaran yang penuh dengan liburan sudah lewaaat. Jaauuuh. Gara-gara gak punya gawe alias pengangguran, hasrat untuk plesiran masih sangat besar. Untung aja ada agenda family gathering dari kantornya Ibuk. Tipe liburan singkat dengan jadwal padat yang gak bisa diganggu gugat. Tapi tetap aja dong, semangatnya penuh secara liburan gratis.
Jadwal piknik berangkat Jumat malam dan Minggu malam sampai Solo. Hmm, cukup bawa barang seadanya aja deh. Setelah main cabut kaos dari tumpukan pakaian, terkumpul tiga potong kaos dan satu celana pendek. Sebagai pelengkap ada alat mandi, alat make up, power bank, dan rampasan kamera punya mas pacar.

image

Simple tapi komplit

Jumat malam sekitar jam setengah 10 berangkatlah menuju Batu, Malang lewat jalur utara. Kata TLnya sih mau nyobain toll baru. Dasar moloran, naik bis belum sampai Sragen sudah tidur, akhirnya nggak ngelihat toll baru yang dimaksud. Jam 5 tet sampai hotel, transit doang. Sholat subuh, molor lagi, mandi, sarapan, dan meluncur ke toko oleh-oleh. Lhah, bikin boros di awal nih. Tapi kan si Emak yang ngeluarin dompet. Hihihi.
Yak, wisata dimulai dengan yang ijo-ijo. Eco Green Park, Batu. Asri, adem, punya banyak banget jenis unggas, kebun, embek, sapi, dan es krim. Namanya aja eco green, isinya ramah lingkungan banget nih. Ada instalasi seni yang dibuat dari barang-barang bekas. Sebagai contoh kalau barang bekas dengan penanganan yang tepat bisa jadi barang yang punya nilai seni.

image

Limbah kayu jadi patung

Puas jalan-jalan, jajan-jajan, foto-foto, lihat-lihat, balik lah ke bis, nunggu rombongan buat makan siang dulu. Kenyang, cus lanjut ke Museum Angkut. Obyek wisatanya deket lho jaraknya antara satu sama lain. Oh, iya obyek wisata ini termasuk satu rangkaian wisata yang bisa dilakukan dengan cuma beli 1 tiket. Namanya tiket sakti. Kalau kalian beli tiket sakti, kalian bisa nikmati 7 obyek wisata andalan Batu dengan harga yang murah banget.

image

300ribu kurang udah komplit

Yak, balik ke museum angkut. Museum angkut ini favorit diantara tiga obyek yang dikunjungi. Isinya ada miniatur pasar apung yang jual souvenir dan jajanan nusantara. Taglinenya sih jajanan nusantara, tapi aku lihat banyak makanan Solo yang dijual. Nggak jajan deh. Bangunan utama isinya bikin merinding disko. Motor dan mobil tua! Ada informasinya juga layaknya museum lainnya. Tapi aku pilih lihat-lihat mobil sama motornya aja.

image

Nggak ngerti seri motornya

image

Heinkel Kabinkruiser 1957 - 196cc

Weits, tunggu dulu. Isinya museum angkut gak cuma moda transportasi lho. Di atap bangunan utama ada simulasi apollo dan pesawat terbang. Selain itu ada juga miniatur kota dari berbagai negara. Berhubung aku ke sini pas hari Sabtu, situasinya cukup ramai jadi harus antri kalau mau foto di spot yang bagus.

image

Ceritanya ini Inggris

image

Gangster town

image

Diinjak hulk mesin

Capek muter-muter tapi dapat stok DP lumayan banyak. Hahahaha. Lain kali harus balik ke Batu, datang ke obyek yang sama tapi nggak pake rombongan. Biar puas ekplore obyeknya. Balik hotel udah maghrib aja. Niat hati mau lanjut ke BNS gara- gara capek banget akhirnya malah tidur sampe pagi. Oh, iya. Ada pengalaman sekali seumur hidup pas di hotel, mati lampu dan hotelnya gak punya genset. Duh mak.
Minggu pagi buru-buru beberes karena abis sarapan langsung check out. Pulang ke Solo mampir dulu ke tujuan trakhir, Predator Fun Park. Obyek ini tergolong baru karena baru beberapa minggu dibuka dan masih dalam tahap pembangunan.

image

Gerbang utama Predator Fun Park

Predator Fun Park isinya didominasi oleh buaya. Mulai dari patung, replika, fosil, diorama, sampai buaya asli. Ukuran buaya hidupnya juga macem-ma em, dari telor sampai ada yang 3 meter. Eit, jangan skeptis dulu. Di balik nama fun park tentu ada hal yang menyenangkan. Obyek ini punya kereta mini untuk mengitari sebagian lokasi, area bermain trampolin, water park, cafetaria, dan family fun game.

image

Waterparknya lumayan gede

image

semacam mini versinya benteng takeshi

Yah, selesai lagi deh jalan-jalannya. Semoga cepet ada kesempatan buat dolan lagi. Yuk, bobog dulu.

0

aku mulai rindu

hujan dan dingin senja

kangen pun jadi memeluk erat

berada di Kalimati-kah kau?

atau mungkin di Arcopodo?

seharusnya masih purnama malam ini

atau malahan hujan turun di sana?

 

kalau aku tak salah hitung hari

malam nanti kau akan kunjungi nisan Soe Hok Gie

jangan menyerah pada pasir dan tanjakan

lalu esok kau akan sambut terbit fajar dari Mahameru

ingat aku, ingat tentang semua cintaku

sampaikan salamku pada sempurna alam

 

jika kau turun nanti

ingatkan aku pada indah gunung

bawa pulang lukisan Ranu Kumbolo

bawa pulang terbit fajar Mahameru di hatimu

bingkai mimpiku dalam lensamu

lukislah warna-warna sejati dan berikan padaku

 

agar aku yakin kau pulang

agar aku yakin Semeru menuntunmu pulang

padaku, pada mereka yang sayangimu

 

“untukmu yang ada di Semeru, Oktober – November 2012”

2

anak pertama kami, tak luput dari salah :)

Tujuh bulan berlalu sejak proses produksi kami berakhir. Setiap bagian video dan audio telah tertata rapi dalam satu folder berjudul Kartini untuk Negeri. Namun sayang sekali, folder berisi ribuan file berharga itu tak pernah disentuh.Bahkan sedikit terlupakan dari pikiran kami. Tersaingi oleh liburan, tugas – tugas, hari raya Idul Fitri, KKN, hingga kembali lagi ke puluhan tugas yang jadi kambing hitam. Bukankah tekad kita untuk berkarya masih ada? Bukankah kita dulu mencuri sepenggal waktu hanya demi mengambil gambar sebuah adegan atau sekedar menunggu hujan reda dan batal take?

Keinginan kuat untuk melihat sebuah karya seperti menjadi kabur. Kami seakan tak pernah memiliki sebuah karya. Padahal, bumbu sudah siap dan bahan telah diracik, kompor sudah menyala dan kami siap memasak. Tapi kami diam, kami membiarkan bahan – bahan itu berdebu dalam satu kotak. Kami hanya saling memandang tanpa menyebut sekalipun tentang KuN, seakan anak kami adalah anak haram. Kami tak pernah mencuri waktu lagi untuk sekedar membimbing KuN menjadi dewasa melalui meja editing.

Lalu sesuatu menggerakkan kami. Sepenggal harapan untuk KuN kembali hidup. Aku ingin melihat KuN hidup di layar putih yang terbentang dan ditembak sinar proyektor. Aku ingin sekedar melihat anakku tumbuh. Aku ingin mencoba menyelesaikan karyaku yang tertunda. Aku ingin mencoba, meski mungkin gagal. Kami menyerukan itu di hati kami. Diam – diam, kami masih berharap.

30 November 2012, Kartini untuk Negeri kembali hidup. Lengkap dalam satu buah film, tak lagi terdiri dari ribuan file. Kami ada di sana. Menonton anak kami tumbuh. Menyaksikkan karya kami dilihat puluhan pasang mata. Kami terdiam, kami takut, kami bangga, kami terharu, kami tak bisa bicara.

13 Angles telah berhasil menciptakan sebuah karya. Bersama kami melangkah dalam 13 sudut pikiran yang tak mungkin bersatu. Kami terluka dan kami mencoba lagi, untuk Kartini untuk Negeri.
Kita satu jiwa!

0

Kartini untuk Negeri

Beberapa bulan kami sempat berhenti bergerak.
Berdiam pada ego masing – masing tanpa berusaha menyadari, seakan lupa kami masih ingin karya kami selesai dengan cantik. Berbagai alasan terlontar dengan mudah dari kami. Entah sebuah produksi lain, entah jadwal kuliah, entah kegiatan apapun yang mendadak menjadi lebih penting dari konsekuensi awal.

Kami bukannya ingin berhenti.
Kami hanya belum punya kesadaran untuk memiliki sebuah karya, ‘Kartini untuk Negeri’. Tapi pelan – pelan kami bergerak lagi. Berasal dari individu – individu yang mulai mempertanyakan kelangsungan produksi ini dan hari Kartini semakin berlari mendekat.

Kami tidak lagi berdiam.
Menekan sebentar ego dan perasaan masing – masing, kami kembali bergerak. Tidak berjalan seperti dulu, tapi kami berlari. Mengejar ketertinggalan proses yang sekian lama. Bergegas mencari semangat juang yang sempat tersingkir.

“ Kita sadar.
Kita tak bisa bergerak sendiri.
Kita mengingat.
Meski logika kita memiliki 13 sudut, Kita Satu Jiwa!”

0

Malam

sepotong malam

tertawa menggoda

memanggil menilik bintang yang pelan muncul

kembali setelah badai mendung mencuri hangat

 

bukankah aku tersenyum disini?

dengan senja yang tak selalu memerah

namun dinginnya tak pernah menggigit buas

 

bukankah malamku tak pernah terlalu pekat?

dengan hangat yang selalu menghibur

walau purnama tak lagi datang

 

aku menolak kedinginan di kotaku sendiri

dengan tatapan tajam para bintang

dengan senyum sinis dewi malam

 

aku menolak tersenyum terpaksa di kotaku sendiri

tidak jika masih kudapati senjaku

tidak jika pagiku masih tersenyum

tidak jika hujanku setia membelai indah